Tak berapa lama perjalanan ini
Bukit saja kami daki, kelok saja kami lalui
Di penghujung sebuah lukisan menyambut
Malu-malu bersembunyi di balik kabut
Lalu pelindungnya beranjak
Maka ia serahkan dirinya pada mata-mata kami yang manja
Biru ia, biru sedikit perak
Perlahan dan anggun bersoja
Ia munculkan diri penuh ke pemandangan
Ai, tuangan biru langit di atas kanvas hijau
Hanya sesaput kabut
penghalang kita dan surga
Disana lebih indah, katanya (mereka juga belum kesana)
Tapi ini cukup selagi di Bumi
Sungguh enggan beranjak, kami-kami yang terlena
Mengabadikan segala dengan mata, kata
dan permainan cahaya
Karena hanya itu yang manusia bisa.
- Puncak Lawang, Sumatera Barat
30 Maret 2013
April 30, 2014
April 27, 2014
Saya Kembali!
Halo, teman-teman!
Tidak lama setelah menulis tulisan saya yang terakhir di blog ini, saya kehilangan akses ke akun Blogger saya. Otomatis, saya tidak bisa mengubah apapun di dalamnya, termasuk tidak bisa menulis apa-apa.
Hari ini, setelah lebih dari dua tahun (waktu berjalan sangat, sangat cepat), saya memperoleh kembali akses itu.
Saya bisa membuka kembali Dashboard saya dan bisa menulis lagi. Senang!
Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Maret 2004, saya memulai menulis disini.
Meski produktivitasnya naik-turun, ini tahun kesepuluh blog ini.
Beberapa dari teman-teman menyaksikan Audrey Cornu lahir. Ia tumbuh dan berkembang hingga saat ini berkat teman-teman: para pembacanya, serta komentar-komentar yang dituliskan untuknya.
Untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman semua.
Setiap kata tidak lain adalah nafas untuk Audrey Cornu.
Kini blog ini saya dedikasikan untuk tulisan-tulisan fiksi dan seperti puisi dan cerita pendek.
Semoga teman-teman menikmatinya.
Selamat datang kembali. :)
Salam,Audrey
Tidak lama setelah menulis tulisan saya yang terakhir di blog ini, saya kehilangan akses ke akun Blogger saya. Otomatis, saya tidak bisa mengubah apapun di dalamnya, termasuk tidak bisa menulis apa-apa.
Hari ini, setelah lebih dari dua tahun (waktu berjalan sangat, sangat cepat), saya memperoleh kembali akses itu.
Saya bisa membuka kembali Dashboard saya dan bisa menulis lagi. Senang!
Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Maret 2004, saya memulai menulis disini.
Meski produktivitasnya naik-turun, ini tahun kesepuluh blog ini.
Beberapa dari teman-teman menyaksikan Audrey Cornu lahir. Ia tumbuh dan berkembang hingga saat ini berkat teman-teman: para pembacanya, serta komentar-komentar yang dituliskan untuknya.
Untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman semua.
Setiap kata tidak lain adalah nafas untuk Audrey Cornu.
Kini blog ini saya dedikasikan untuk tulisan-tulisan fiksi dan seperti puisi dan cerita pendek.
Semoga teman-teman menikmatinya.
Selamat datang kembali. :)
Salam,Audrey
May 24, 2010
Waktu
Kini malam menyapa,
tak lama pagi sudah hadir kembali
Dan kau tak perlu membalikkan jam pasir
Untuk memastikan sang waktu bergulir
May 20, 2010
kontemplasi
(aku disini bukan aku)
tik
tik
titik-titik bening, kaca jadi basah dari kering
hening
dirimu menyublim
tik
tak
jangan lakukan itu
gelisah menghantui, itu aku sudah tahu
dan ketak sepatu tak mengindahkan tanyaku
tak juga satu
tik
tok
terus berputar, sayang
ia terus berputar
namun berbatas
tak akan menahan bahkan sebuah sentuhan
jika saatnya tiba
jika diri tak sanggup lagi mengerti
titik
kontemplasi adalah kemewahan
bagai milik burung bebas yang menyapa wajah dalam sangkar emas
namun jangan sekarang, sayang
kau kecap manis kemewahan itu
karena aku disini
karena aku disini
Mei 2010
February 14, 2010
Pertemuan
Malam sudah larut.
Sudah bukan jam bertamu, sudah tak patut.
Aku ragu di depan tertutupnya pintu.
Gaung suara bertalu-talu, jauh di ruang yang terasa begitu kosong.
Entah darimana, bahkan aku tak mengenalinya.
"Dia tak akan menolak hadirmu."
Maka pintu itu kuketuk, lalu aku masuk.
Senyap.
Dan burung hantu pun menguhu, seakan dia tahu.
Tahu keresahan ini menggila di dalam hati.
Seribu kata agung.
Puji kuucapkan lewat lidah yang terlanjur kelu, sungguh aku tak mampu.
Mata kami beradu.
Tapi aku melihat senyuman hangat.
Begitu hangat, seakan kami begitu dekat.
Seakan diriku bisa merasakan bumi berputar.
Keringat dingin mungkin muncul.
Diriku pun tak merasa.
Ragu dan gagu.
Hati tersayat sembilu.
Lalu kami bicara.
Entah siapa yang memulai, alam sadar lupa menerima impulsnya.
Nyaman, seperti sepasang kawan lama.
Tiba-tiba aku terisak.
Dan Dia mengelusku di kepala.
Kemudian aku tergelak.
Dia menemaniku tertawa.
"Aku rindu." Akhirnya.
Tapi suaraku tercekat. Malu?
"Tapi aku selalu disini. Tak pernah pergi."
"Aku tahu.
Entah.
...
Mungkin aku yang tak tahu diri."
"Tak apa. Aku disini."
Lalu Dia merengkuhku.
Dan aku pun diam di pelukan-Nya.
Hangat.
Aku terbangun tanpa diri-Nya.
Tapi nyaman itu masih disana.
Aku menengok ke pintu itu.
Di atas secarik kertas dua baris tulisan terbaca.
Sederhana saja, tanpa puitisasi apa-apa.
Bunyinya,
"Aku selalu disini.
Kapan pun kau butuh Aku."
Hangat itu merasuk ke dalam hati.
Bersemayam disana.
Kuharap selamanya.
Sudah bukan jam bertamu, sudah tak patut.
Aku ragu di depan tertutupnya pintu.
Gaung suara bertalu-talu, jauh di ruang yang terasa begitu kosong.
Entah darimana, bahkan aku tak mengenalinya.
"Dia tak akan menolak hadirmu."
Maka pintu itu kuketuk, lalu aku masuk.
Senyap.
Dan burung hantu pun menguhu, seakan dia tahu.
Tahu keresahan ini menggila di dalam hati.
Seribu kata agung.
Puji kuucapkan lewat lidah yang terlanjur kelu, sungguh aku tak mampu.
Mata kami beradu.
Tapi aku melihat senyuman hangat.
Begitu hangat, seakan kami begitu dekat.
Seakan diriku bisa merasakan bumi berputar.
Keringat dingin mungkin muncul.
Diriku pun tak merasa.
Ragu dan gagu.
Hati tersayat sembilu.
Lalu kami bicara.
Entah siapa yang memulai, alam sadar lupa menerima impulsnya.
Nyaman, seperti sepasang kawan lama.
Tiba-tiba aku terisak.
Dan Dia mengelusku di kepala.
Kemudian aku tergelak.
Dia menemaniku tertawa.
"Aku rindu." Akhirnya.
Tapi suaraku tercekat. Malu?
"Tapi aku selalu disini. Tak pernah pergi."
"Aku tahu.
Entah.
...
Mungkin aku yang tak tahu diri."
"Tak apa. Aku disini."
Lalu Dia merengkuhku.
Dan aku pun diam di pelukan-Nya.
Hangat.
Aku terbangun tanpa diri-Nya.
Tapi nyaman itu masih disana.
Aku menengok ke pintu itu.
Di atas secarik kertas dua baris tulisan terbaca.
Sederhana saja, tanpa puitisasi apa-apa.
Bunyinya,
"Aku selalu disini.
Kapan pun kau butuh Aku."
Hangat itu merasuk ke dalam hati.
Bersemayam disana.
Kuharap selamanya.
Subscribe to:
Posts (Atom)