September 10, 2018

jalan tujuan

Di persimpangan ini terpampang catatan
Dalam badai tegak bertahan
Aku bacai ia, sebuah perjalanan:

"Disini kesendirian memilih jalan
Derita atau henti, cerita dan obituari
Damai yang dirindukan tak pernah datang

Maka ia berjalan, berbelok, kembali
Jalan yang ia ambil tak bertiang satu:
itu setapak tujuannya sendiri."

July 12, 2015

Tapi Kau Tak di Jakarta

Panas Ibukota
Langkah-langkah yang terburu
Keras kursi jingga
Jiwaku terbawa bayu

Siapa yang tahu
Saat hati dihampiri
Halo, engkau, Rindu
Kita dalam Metro Mini

- Jakarta, 5 April 2013

Spasi

Kau ada di antara
Koma dan tanda tanya
Jeda antara rasa
Kau syair tanpa akhir
Di atas emas pasir
Mimpi tanpa bertafsir

March 1, 2015

Di Sudut Gelap Taman Mandara

Saat nista taman itu
Kau mau dan kubilang tunggu
Tapi aku kau rengkuh hingga mengaduh

Kuserahkan rahim dan buah cinta
Hingga tiga desidus kau bungkam suaranya
Sejak itu ia kuberikan semua

Selalu kau yang benar, aku tahu
Tubuhku hanya kau yang sentuh, aku setuju
Tapi suaraku, jiwaku, darahku, bukan milikmu

Dalam cermin ada wanita Jeihan
Dan jejak-jejak yang kau sembunyikan
Aku tak bisa ke belakang dengan tenang

Kau dan ia di taman itu lagi
Kuketahui dan kuakhiri
Tak ada lagi aku sang abdi

November 26, 2014

Mind Trick

My mind plays trick on me when I'm alone
Along these steel-like pathway I see
A man as him
A woman as her

My mind does funny things when I'm not thinking
Gape at a joke, a smart anecdote
Missed not only a pun
But the whole conversation

My mind drifts away to who knows where
Who knows where, but here
It wanders on short trips without a return
Leaves the bear to an empty shell
Its eyes to repel

In a cartoon there would have been a red button to push
But none here to turn mode to the full

22.00

October 19, 2014

Penantian

Tadi pagi kulihat merpati
Tapi bulunya kelabu
Mataku menipu

Tadi sore langit jernih jingga
Lalu awan menghitamkan
Aku bertanya ada apa

Nurani tak membohong-dibohongi
Apa hati, apa mata, yang salah
Untuk bertanya
Kau dimana berada?


11.09.2013

August 5, 2014

Aku ingin bertanya

Aku ingin bertanya dalam bunyi yang sama
Dengan nada yang akrab di telinganya
Lewat kata yang tiap hari dibaca

Berapa orang dijamu hari ini
Siapa nama anaknya, umur berapa
Atau melempar kelakar yang asing untuk seleranya

Kulitnya sawo matang seperti aku
Hidungnya datar serupa milikku
Mungkin buyutnya adalah buyutku

Tapi lidahnya tebal sementara punyaku tipis
Logatnya dalam sementara milikku begitu dangkal
Tembang ibunya indah, bagi separuh diriku yang tak pernah lahir

"Matur nuwun."
Cuma itu saja
Sembarang kukatakan dikira orang gila!

- Yogyakarta, Juli 2014

May 25, 2014

Sehidup Semati

Diberkati kalian,
   yang keresahannya teredam oleh sepenggal janji
   yang mengerti pengabdian sepenuh ketiadaan.

April 30, 2014

Mungkin ini Pintu Surga

Tak berapa lama perjalanan ini
Bukit saja kami daki, kelok saja kami lalui

Di penghujung sebuah lukisan menyambut
Malu-malu bersembunyi di balik kabut

Lalu pelindungnya beranjak
Maka ia serahkan dirinya pada mata-mata kami yang manja
Biru ia, biru sedikit perak
Perlahan dan anggun bersoja

Ia munculkan diri penuh ke pemandangan
Ai, tuangan biru langit di atas kanvas hijau

Hanya sesaput kabut
  penghalang kita dan surga
Disana lebih indah, katanya (mereka juga belum kesana)
Tapi ini cukup selagi di Bumi

Sungguh enggan beranjak, kami-kami yang terlena
Mengabadikan segala dengan mata, kata
  dan permainan cahaya
Karena hanya itu yang manusia bisa.

- Puncak Lawang, Sumatera Barat
30 Maret 2013

April 27, 2014

Saya Kembali!

Halo, teman-teman!

Tidak lama setelah menulis tulisan saya yang terakhir di blog ini, saya kehilangan akses ke akun Blogger saya. Otomatis, saya tidak bisa mengubah apapun di dalamnya, termasuk tidak bisa menulis apa-apa.

Hari ini, setelah lebih dari dua tahun (waktu berjalan sangat, sangat cepat), saya memperoleh kembali akses itu.
Saya bisa membuka kembali Dashboard saya dan bisa menulis lagi. Senang!

Sepuluh tahun yang lalu, tepatnya pada bulan Maret 2004, saya memulai menulis disini.
Meski produktivitasnya naik-turun, ini tahun kesepuluh blog ini.
Beberapa dari teman-teman menyaksikan Audrey Cornu lahir. Ia tumbuh dan berkembang hingga saat ini berkat teman-teman: para pembacanya, serta komentar-komentar yang dituliskan untuknya.
Untuk itu saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman semua.
Setiap kata tidak lain adalah nafas untuk Audrey Cornu.

Kini blog ini saya dedikasikan untuk tulisan-tulisan fiksi dan seperti puisi dan cerita pendek.
Semoga teman-teman menikmatinya.

Selamat datang kembali. :)



Salam,Audrey

May 24, 2010

Waktu

Kini malam menyapa,
tak lama pagi sudah hadir kembali
Dan kau tak perlu membalikkan jam pasir
Untuk memastikan sang waktu bergulir

May 20, 2010

kontemplasi

(aku disini bukan aku)


tik

tik

titik-titik bening, kaca jadi basah dari kering

hening

dirimu menyublim


tik

tak

jangan lakukan itu

gelisah menghantui, itu aku sudah tahu

dan ketak sepatu tak mengindahkan tanyaku

tak juga satu


tik

tok

terus berputar, sayang

ia terus berputar

namun berbatas

tak akan menahan bahkan sebuah sentuhan

jika saatnya tiba

jika diri tak sanggup lagi mengerti


titik

kontemplasi adalah kemewahan

bagai milik burung bebas yang menyapa wajah dalam sangkar emas


namun jangan sekarang, sayang

kau kecap manis kemewahan itu

karena aku disini

karena aku disini



Mei 2010


February 14, 2010

Pertemuan

Malam sudah larut.
Sudah bukan jam bertamu, sudah tak patut.
Aku ragu di depan tertutupnya pintu.

Gaung suara bertalu-talu, jauh di ruang yang terasa begitu kosong.
Entah darimana, bahkan aku tak mengenalinya.
"Dia tak akan menolak hadirmu."

Maka pintu itu kuketuk, lalu aku masuk.

Senyap.
Dan burung hantu pun menguhu, seakan dia tahu.
Tahu keresahan ini menggila di dalam hati.

Seribu kata agung.
Puji kuucapkan lewat lidah yang terlanjur kelu, sungguh aku tak mampu.
Mata kami beradu.
Tapi aku melihat senyuman hangat.
Begitu hangat, seakan kami begitu dekat.

Seakan diriku bisa merasakan bumi berputar.
Keringat dingin mungkin muncul.
Diriku pun tak merasa.
Ragu dan gagu.
Hati tersayat sembilu.

Lalu kami bicara.
Entah siapa yang memulai, alam sadar lupa menerima impulsnya.
Nyaman, seperti sepasang kawan lama.

Tiba-tiba aku terisak.
Dan Dia mengelusku di kepala.
Kemudian aku tergelak.
Dia menemaniku tertawa.

"Aku rindu." Akhirnya.
Tapi suaraku tercekat. Malu?

"Tapi aku selalu disini. Tak pernah pergi."

"Aku tahu.
Entah.
...
Mungkin aku yang tak tahu diri."

"Tak apa. Aku disini."

Lalu Dia merengkuhku.
Dan aku pun diam di pelukan-Nya.
Hangat.

Aku terbangun tanpa diri-Nya.
Tapi nyaman itu masih disana.

Aku menengok ke pintu itu.
Di atas secarik kertas dua baris tulisan terbaca.
Sederhana saja, tanpa puitisasi apa-apa.
Bunyinya,
"Aku selalu disini.
Kapan pun kau butuh Aku."

Hangat itu merasuk ke dalam hati.
Bersemayam disana.
Kuharap selamanya.

September 3, 2009

Menuliskan Apa yang Terlintas di Pikiran

Restoran sunyi. Tak ada suara terdengar kecuali dari jangkrik yang bernyanyi dan hewan malam yang bercakap-cakap dengan bahasa tubuh dan sinar mata yang memantulkan cahaya bulan. Tak ada suara manusia, bahkan dari dua orang yang duduk bersama di sana.


Maya dan Praha menempati meja pojok. Sudah dua puluh menit berlalu sejak mereka duduk dalam diam. Kesunyian sungguh mengusik. Kecanggungan meningkahi, membuat keduanya tak sanggup menyatakan apapun yang terlintas di pikiran. Bahkan untuk bernapas pun mereka ragu, sehingga tiap tarikan napas diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara.


Maya bergidik. Udara telah terlalu dingin. Praha menatap lembut wanita di depannya. Menuntaskan kesunyian.


"Mau pulang?"


Maya diam.


Aku tidak mau pulang. Karena pulang berarti berpisah dengan kamu. Karena aku tidak tahu kapan bisa bertemu kamu lagi seperti saat ini. Saat aku bisa dekat dengan kamu. Meskipun diam. Meskipun aku dan kamu sama-sama tak tahu apa-apa.


Maya diam. Lalu meraih dompet untuk membayar makanannya.

June 8, 2009

Mencari Setitik Embun - Bagian II

Orang bertanya sana-sini,
"Bagaimana?"
Ingin sekali ia menjawab pasti,
"Semua baik-baik saja."
Ditambah seulas senyum andalan.

Dimana kalian,
Wahai pemicu-pemicu gairah?
Para pengubah nasib!
Disini ia butuh kalian.
Meski ia sendiri masih bertanya-tanya, siapa atau apa.
Wahai yang menghidupkan semua yang mati suri.
Malaikat pembawa lilin saat dingin.
Kemari, kemari.
Sebelum ia mati karena dirinya sendiri.

Mencari Setitik Embun - Bagian I

Alunan musik dan lirik
Senin sampai Jumat
Tak ada bisik-bisik
Semua sudah dikenal dekat sampai penat

Pensil dan kertas, kesayangannya
Huruf, angka, huruf saja
Tak bergambar, seperti biasa
Apa pesonanya perlahan meniada?

Udara sejuk membuat gerah
Bahkan yang seperti rumah membikin jengah

March 29, 2009

Tentang Air Mata

Sesak
Terlalu penuh di dalam sini
Ruang hati tak sanggup lagi memberi
Tumpangan
Pertahanan
Kekuatan menyembuhkan

Sebenarnya sungguh ia tak diinginkan

Namun ia sudah jatuh
Terus tak terkendali
Berjalan turun perlahan
Seakan ragu untuk menyusuri jalan
Memahami hati yang masih tak ingin
Meski akhirnya memilih untuk membiarkannya dibelai angin

Kau ucapkan kata
Empat huruf saja

Namun adakah berarti lagi?

Karena ia sudah jatuh
Dan meninggalkan bekas di hati

The Beatles - All You Need Is Love

Love, love, love.
Love, love, love, love, love, love.
Love, love, love.
Love, love, love, love, love, love.
Love, love, love: It's easy! Ooh!

There's nothing you can do that can't be done.
Nothing you can sing that can't be sung.
Nothing you can say but you can learn how to play the game
It's easy.

There's nothing you can make that can't be made.
No one you can save that can't be saved.
Nothing you can do but you can learn how to be you in time
It's easy.

All you need is love
All you need is love,
All you need is love.
Love is all you need.

There's nothing you can know that isn't known.
Nothing you can see that isn't shown.
Nowhere you can be that isn't where you're meant to be.
It's easy.

All you need is love
All you need is love,
All you need is love, love
Love is all you need.

Crita - Bagian II

"Siapa?" Mulut-mulut brahmana.

"Aku Srikandi. Putri Prabu Drupada dan Dewi Gandawati."
Tegak ia berdiri.
Angin di sekitarnya berhenti.
Menanti ia berkata lagi.

"Apa maksudmu?" Brahmana.

"Cukup aku dan para dewa yang mengerti. Tak perlu kalian tahu."

"Tetapi ini Arjuna. Kami berhak tahu. Dan siapa kamu, mengaku nomor satu?"

Pada brahmana para dewa berkisah lagi,
"Srikandi seorang senapati dalam Pandawa.
Sesungguhnya mungkin ia seorang yang satria pula, hanya ia tak menyadari.
Dalam Mahabharata Bumi Manusia dikisahkan,
Arjuna telah lama mengenalnya.
Diajarkannya pada Srikandi ilmu panah dan yang lain yang dikuasainya.
Arjuna telah memberi banyak tanpa menyadarinya."

"Tapi itu tidak berarti ia lebih pantas daripada para dewi."
Pikat dewi luar biasa.
Ataukah itu hasrat, yang tercermin di mata mereka?

Bijaksana.
Para dewa terdiam sejenak lalu bicara.
"Hanya satu yang ingin kami tahu."

Debar jantung Srikandi serupa derik gerinda.
Apa ia siap dipermalukan, di hadapan para brahmana?
Namun kegundahan tak ditunjukkannya.

"Yakinkah yang ada di hatimu, ataukah semata nafsu ingin menantang dunia?"

Barisan krisan menanti jawaban.
Lebah madu menunggu.

Dan Srikandi bersemu laksana buah surga yang memikat hati Adam.

"Selama ini aku mencari dan menanti.
Dari setiap yang datang dan pergi.
Belum pernah aku menemukan lagi.

Mungkin menurutmu aku tidak sebanding dengan para dewi.
Tetapi tidak apa yang ada di dalam hati.
Hanya kesungguhan yang ada disini."

"Dan belum pernah niatku sekuat ini."

Para dewa bangga.

Brahmana diam, meskipun wajah mereka tidak bahagia.
Angin memperoleh kembali kekuatannya.
Lebah madu dan barisan krisan terbuai menatap awan.

Srikandi tersenyum.
Dan sungguh belum pernah ia tersenyum seperti itu.

March 13, 2009

Crita - Bagian I

Bersahaja.
Alam semesta menatapmu bangga.
Dedaunan, mendesah manja, "Kau sang Arjuna."

Menatap sang wanita.
"Dia bagaikan dewi." Barisan krisan terkesan. Sahut-sahutan.
"Tidak! Dia biasa saja." Lebah madu mengadu. Tidak setuju.

Dan sungguh para dewa berkisah pada brahmana,
"Arjuna seorang yang satria. Sebaik-baiknya satria.
Bahkan dewi akan menyerahkan diri padanya tanpa diminta.
Ya, dewi, yang dipuja dari tundukan langit hingga tengadah tanah.
Arjuna pun mabuk oleh daya tariknya seketika."

Dari sudut, suara gadis sampai di telinga.
"Aku lebih pantas dari mereka."
Suara Srikandi.
Memberanikan diri.