Showing posts with label bahasa. Show all posts
Showing posts with label bahasa. Show all posts

August 5, 2014

Aku ingin bertanya

Aku ingin bertanya dalam bunyi yang sama
Dengan nada yang akrab di telinganya
Lewat kata yang tiap hari dibaca

Berapa orang dijamu hari ini
Siapa nama anaknya, umur berapa
Atau melempar kelakar yang asing untuk seleranya

Kulitnya sawo matang seperti aku
Hidungnya datar serupa milikku
Mungkin buyutnya adalah buyutku

Tapi lidahnya tebal sementara punyaku tipis
Logatnya dalam sementara milikku begitu dangkal
Tembang ibunya indah, bagi separuh diriku yang tak pernah lahir

"Matur nuwun."
Cuma itu saja
Sembarang kukatakan dikira orang gila!

- Yogyakarta, Juli 2014

November 10, 2008

10 Hal tentang Seorang Audrey Cornu

Saatnya mengumpulkan tugas setelah lama mengerjakan hal-hal lain. Pak Candra, ini jawaban saya:

10 Hal tentang Seorang Audrey Cornu

1. Waktu kecil, saya sangat cengeng.
Ibu saya masih menyimpan "Buku Penghubung" milik saya sewaktu TK, sebuah buku yang dimiliki tiap anak dan berfungsi sebagai media komunikasi guru dengan orangtua murid. Disitu saya pernah membaca surat dari ibu saya untuk ibu guru di sekolah yang bunyinya kira-kira seperti ini:
"Ibu Guru Yth.,
pagi ini Audrey tidak mau sekolah. 'Libur,' katanya [padahal tidak libur-penulis]. Setelah saya ajak bicara, Audrey bercerita bahwa di sekolah ada seorang anak SD yang suka mengganggunya. Katanya namanya R****n [disembunyikan demi nama baik yang bersangkutan-penulis]. Saya coba jelaskan bahwa mungkin anak itu hanya ingin mengajak bermain, .... Mohon bantuan Ibu. Terima kasih."

Payah.
Tapi jawabannya lebih parah lagi:
"Ibu Yth.,
terima kasih atas pemberitahuan ibu. Perlu kami informasikan pula bahwa di kelas, Audrey sangat mudah menangis. Diajak bercanda pun kadang suka menangis. …"
Duh. Ketika sekarang sudah besar, tentu saya sudah tidak secengeng itu lagi. Tapi tampaknya kecengengannya masih tersisa. Saya termasuk orang yang mudah menangis di bioskop (tentu dengan melihat teman menonton terlebih dahulu) dan bisa tiba-tiba meneteskan air mata saat mendengar lagu yang liriknya bermakna mendalam (“One Sweet Day”, “What’s Going On?”). Tapi saya tidak malu atau minder kok. Saya senang menjadi orang yang sensitif. ;)

2. Saya sering berkhayal
Khayalan itu bisa muncul di otak saya kapan saja.

Di dalam bis kota, saat akan tidur, saat mendengarkan lagu (khayalannya akan berhubungan dengan lirik lagu), kapan pun. Khayalannya bisa bertema apa saja, tapi yang jelas yang indah-indah.

Jadi, kalau suatu saat Anda sedang bersama saya dan melihat saya diam sesaat dengan ekspresi sedikit berubah, mungkin saya sedang berkhayal. Tidak usah bertanya apa yang sedang saya khayalkan, karena kemungkinan terbesar adalah saya tidak akan menceritakannya.

3. Saya orang yang sulit dan lama memutuskan saat berbelanja
Saya jarang berbelanja, walau sebenarnya ingin sering. Bukan karena tidak suka belanja, tapi karena saya sering hanya berjalan-jalan (dalam waktu yang lama) dan melihat-lihat barang tanpa membeli.

Dan kalau sedang beruntung mendapatkan lebih dari satu barang yang menarik, saya akan menghabiskan waktu tambahan yang panjang untuk memutuskan barang yang mana yang akan saya beli.

Plin-plan? Tidak bisa memutuskan? Saya lebih suka menyebutnya penuh pertimbangan.

4. Saya senang menyendiri
Dibandingkan teman-teman perempuan yang lain, mungkin saya orang yang sering pergi kemana-mana sendirian. Seperti yang sudah saya tulis di blog ini, saya menikmati saat-saat melakukan apapun sendirian. Saya sering mendengar ucapan heran teman-teman seperti “Hah? Sendirian?”, “Sendirian aja” setiap kali saya pamit hendak pergi ke suatu tempat sendirian. Tapi saya tidak antisosial. Saya senang juga kok bepergian bersama teman-teman.

Menurut pengalaman saya, saat menyendiri bisa menjadi momen datangnya inspirasi. Apalagi saat bepergian ke tempat-tempat umum seperti stasiun kereta dan mal. Banyak hal kecil yang jarang kita sadari di keseharian, padahal hal kecil itu bisa menjadi pelajaran hidup yang berharga.

5. Saya pernah tidak menyukai nama panggilan saya.
Sejak kecil saya dipanggil dengan sebuah nama yang pernah saya anggap tidak keren. Kesannya terlalu kuno. Saya pernah berpikir untuk mengganti nama panggilan, tapi seiring berjalannya waktu dan mungkin bertambahnya kedewasaan, saya memutuskan untuk tidak melakukannya. Saat ini saya menulis blog dan berbicara di dunia maya dengan nama samaran, tetapi bukan karena masih tidak suka pada nama asli saya. Hanya karena faktor kerahasiaan dan keinginan menyimpan identitas pribadi dari dunia maya. ;)

6. Saya cinta bahasa.
Dari dulu saya senang belajar bahasa. Bahasa apa saja.
  • Dari kecil saya sudah mengenal dan menyenangi bahasa Inggris.
  • Sejak SD pelajaran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sudah menjadi favorit saya.
  • Sejak SD saya mulai menulis buku harian.
  • Ketika SMP saya ingin kuliah Sastra Inggris, Sastra Indonesia, atau Jurnalistik.
  • Sejak SMP saya senang membaca karya-karya sastra dan mulai menulis puisi, cerita pendek, dan naskah drama.
  • Sejak SMA saya mulai menulis blog.
  • Saat ini, saya sedang belajar bahasa Perancis.
  • Yang masih ingin saya kembangkan adalah kemampuan berbahasa daerah. Saya ini keturunan Jawa, Sunda, dan Mandailing, tapi tidak bisa satupun dari tiga bahasa daerah asal keturunan tersebut. Yang sedikit bisa hanya bahasa Sunda. Saya ingin lebih menguasai lagi.
Ada sesuatu dalam dunia bahasa dan sastra yang membuat saya jatuh cinta. Entah apa. Mungkin unsur puitis di dalamnya yang menyentuh saya, si orang sensitif. ;) Tidak terkecuali bahasa Indonesia, yang sering membuat saya terpukau. Saya sangat menghargai bahasa dan berusaha menggunakannya sebaik mungkin.

Itulah sebabnya saya paling benci membaca tulisan di media yang acak-acakan, yang mencampur adukkan dua/banyak bahasa. Tadi saya baru saja membaca kalimat yang bunyinya kira-kira ”They thought they were wrong, dan right, mereka emang salah.” Apa sih yang salah dengan “Mereka pikir mereka salah, dan memang benar, mereka salah.”?

Kalau menulis tentang ini bisa jadi panjang. Nanti sajalah.

7. Saya sangat tidak berbakat dalam olahraga.
Saya tidak bisa bermain basket. Lari saya tidak cepat. Saya tidak bisa menservis bola voli. Saya tidak bisa berenang cepat. Kadang saya tidak bisa memukul kok dengan tepat.

Mungkin ada hubungannya dengan postur tubuh saya yang kurang mendukung, tetapi kadang saya merasa memang tidak diberikan kemampuan untuk berolahraga. Apalagi dulu saat pelajaran senam dan lompat tinggi di SD dan SMP. Aduh, sedihnya saat saya tidak bisa melakukan handstand atau melewati palang melintang.

Satu-satunya olahraga yang saya kuasai adalah bersepeda. Dan tenis, tetapi dalam permainan Nintendo Wii. Oya, saya punya stamina dan kemampuan cukup tinggi dalam melakukan dan sit-up dan push-up, yang menjadi kebanggaan saya saat ospek.

8. Minat saya sangat luas.
Saat SD-SMP, saya pernah ingin menjadi penulis, dokter, pramugari, dan presiden.
Kelas 1 SMA, saya ingin menjadi dokter.
Kelas 2 SMA, masih ingin menjadi dokter.
Kelas 3 SMA, saya sempat ingin kuliah Sastra Inggris, Kedokteran, Teknik Industri, Hubungan Internasional, Ekonomi/Bisnis, Arsitektur, Desain Interior, dan (di akhir SMA, beberapa bulan sebelum lulus) akhirnya Teknik Lingkungan.

Waktu Open House Unit di kampus, saya mendaftar unit MBWG (marching band), PSM (paduan suara), Liga Film Mahasiswa (film, fotografi, EO), Stema (teater), U-Green (pecinta lingkungan), SEF (Student English Forum), Boulevard (majalah kampus), dan beberapa unit olahraga. Saya baru merasa bingung ketika harus mengeliminasi banyak unit di antaranya. x) Akhirnya, saya bertahan di Liga Film Mahasiswa sampai sekarang.

Minat yang luas berarti banyak pilihan. Tetapi kadang luasnya minat ini membuat saya bingung sendiri. Di masa SMA sulit sekali memutuskan untuk kuliah dimana, dan akhirnya saya baru memilih untuk masuk ITB di akhir masa sekolah. Dan jurusan saya ambil bukan jurusan yang saya pilih selama tiga tahun terakhir masa SMA (yaitu Kedokteran).

9. Saya cinta dunia teater.
Dari SD sampai SMA saya aktif di kegiatan teater. Bagi saya, berteater adalah kenikmatan dan kepuasan batin. Akting di atas panggung sangat menyenangkan untuk saya. Naskah, mimik, gerak, properti, dialog, kostum, pencahayaan, volume suara tiga kali volume normal, adalah aspek-aspek yang tergabung dalam dunia teater dan semuanya saya cintai.

Sayangnya, di kampus saya saat ini kegiatan teater tidak terlalu hidup sehingga saya beralih ke film. Saya sudah ikut membuat satu film dan bermain dalam dua film, namun kenikmatan yang saya dapatkan berbeda dengan hidup dalam teater. Di film Anda akan memperoleh kenikmatan visual berkat teknologi seperti efek spesial, hasil penyuntingan yang indah, dan kebebasan memutar ulang adegan yang Anda suka. Di pertunjukan teater, Anda akan memperoleh spontanitas, improvisasi dahsyat, gerak yang maksimal, pencahayaan yang dramatis, dan kedekatan dengan dunia yang disuguhkan. Ternyata setelah mencoba keduanya, saya masih merindukan keindahan berteater.

Ah, satu lagi topik yang akan panjang jika saya jabarkan. Tunggu saja tulisan saya tentang topik ini.

10. Saya senang aktif berkegiatan.
Saya mulai senang berkegiatan di sekolah dan kampus sejak SMP. Dulu saya ikut ekstrakurikuler Drama dan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) untuk menjadi pengurus OSIS, walaupun akhirnya tidak berhasil.

Saat SMA saya baru berkesempatan menjadi Sekretaris II OSIS. Juga ikut ekstrakurikuler Kesenian (bidang teater tentunya). Di masa SMA inilah saya mulai aktif berkegiatan, walaupun jarak sekolah dan rumah agak kurang manusiawi (kalau tidak salah sekitar 10-12 kilometer).

Di kampus saya cukup aktif di unit (sebagai pengurus) dan himpunan, kadang-kadang juga kegiatan kemahasiswaan terpusat.

Dan karena tidak lagi tinggal bersama orangtua, kehidupan mulai teratur. Pulang malam, tidur malam, bergadang, kadang tidak makan malam, dan kadang menginap di kampus. Memang saya merasa capek di saat-saat tertentu dan banyak kepentingan pribadi saya yang menjadi terabaikan, tapi banyak juga kesenangan yang saya rasakan. Saya senang merasa berguna dan berkontribusi untuk sekitar. Semoga nanti setelah masa kuliah kebutuhan untuk aktif ini tidak hilang.

Itulah 10 hal yang cukup pribadi tentang saya.

Tugas diteruskan pada Nyt, Alien, Ramdaffe, Vita, dan Yuki. Tapi tugas ini hukumnya sunnah muakad kok, dilakukan bagus, tidak juga tidak apa-apa. :)

June 6, 2007

Keindahan Berbahasa

Kemarin malam saya pergi ke Ciwalk, nonton Pirates of the Caribbean: At World's End bareng teman-teman ITB.

Filmnya keren, saya terhibur banget! Walaupun belum nonton Pirates yang kedua, saya ngerasa asik-asik aja... Bisa dikira-kira sih maksud ceritanya, hehe. Tapi tulisan saya kali ini bukan buat membahas film ini, karena pendapat saya tentang film ini udah saya tulis di sini.

Setelah nonton, kami ngga langsung pulang. Kenapa ngga? Karena beberapa orang di antara kami mau dapet donat J.Co gratis, yang kata teman saya Tomo bakal dibagiin di depan tokonya mulai jam 10 malem. :)

Teman-teman nonton bareng ini saya kenal dari keikutsertaan saya di sebuah acara bernama AUDC (Asian University Debating Championship) yang beberapa waktu lalu diadakan di ITB; dimana saya menjadi LO (Liaison Officer), atau penghubung antara peserta dengan panitia inti. Sebelum bisa menjadi LO AUDC kami diwawancara dulu oleh Tomo, untuk melihat kemampuan kami dalam berbicara dalam bahasa Inggris, karena peserta acara yang akan kami dampingi nanti berasal dari berbagai negara di Asia dan satu-satunya bahasa yang akan dimengerti oleh semua adalah bahasa Inggris, apalagi karena lomba debatnya juga dalam bahasa Inggris. Jadi, bisa dibilang orang-orang yang diterima menjadi LO ini adalah orang-orang yang bisa berbahasa Inggris cukup baik secara verbal.

Salah satu teman saya lalu bercerita, suatu hari dia makan bersama tiga orang LO lainnya di sebuah restoran. Kebiasaan yang kadang kami lakukan tanpa sadar ketika sedang berkumpul bersama adalah bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, dan saat makan di restoran itu mereka berempat pun mulai ngobrol menggunakan bahasa Inggris.

Setelah beberapa lama, orang-orang sekitar mereka pun mulai memperhatikan. Bukan karena mereka bikin rusuh atau berencana kabur tanpa bayar, tapi karena bahasa yang mereka pergunakan. Orang-orang yang memperhatikan itu lalu mulai menatap sinis, seakan-akan mereka bergosip tentang tamu-tamu restoran yang lain.

Ketika dua-si A dan si B-dari empat teman saya ini pulang, mereka membahas kesinisan orang-orang di restoran itu. Kira-kira begini percakapannya:

A : "Eh, lo liat ngga tadi orang ngeliatin kita sinis gitu? Kayaknya mereka ngomongin kita juga karena make bahasa Inggris ya?"
B : "Haha... Iya, gw malah denger omongan salah satu dari mereka."
A : "Oya? Denger apa?"
B : "Katanya...
'Dikasih sagu, minta kentang. Belagu, mentang-mentang'."

Waktu dengar karmina (pantun dua baris) itu, saya spontan ketawa. Lucu, kan??? Bisa-bisanya ngarang ungkapan kayak gitu.

Tapi setelah melihat ungkapan itu dari segi logika (bukan segi humor), saya pikir, kok orang-orang itu sinis banget ya.
Apa salah, bicara dengan bahasa selain bahasa nasional kita?
Kenapa harus begitu sinis jika tidak mengerti, sedangkan teman-teman saya juga tidak berbicara pada mereka?
Atau mereka merasa terintimidasi karena tidak mengerti arti percakapan teman-teman saya, dan merasa tersindir?
Kenapa harus disebut belagu, kalau maksud mereka sama sekali bukan untuk pamer kemampuan?

Kalau dilihat dari kacamata orang-orang itu, saya mengerti kenapa mereka menyebut teman-teman saya belagu; karena berbahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari masih dipandang tidak biasa oleh sebagian masyarakat.
Padahal, apa bedanya dengan kelompok orang yang berbahasa Sunda di tengah orang-orang Jakarta yang tinggal di Bandung?
Sama-sama bahasa yang tidak universal, bukan?
Kenapa orang-orang Sunda itu tidak dipandang belagu, karena bahasa mereka tidak dapat dicerna orang Jakarta?

Padahal-menurut saya-berbahasa Inggris dengan baik (tanpa dicampur aduk dengan bahasa Indonesia) bisa sangat bermanfaat buat kita. Kemampuan bahasa Inggris, saya yakin anda semua tahu, dibutuhkan di masa depan; dimana kita akan banyak berinteraksi dengan manusia dari seluruh dunia dalam masa perdagangan bebas.

Tentu saja bahasa negeri sendiri harus kita hargai, sebagai warga Indonesia yang harus bangga dan melestarikan bahasanya. Maka saya beranggapan, bahwa kebiasaan berbahasa dengan baik harus kita miliki dan tularkan pada sebanyak mungkin anggota masyarakat.

Yang saya maksud dengan berbahasa secara baik adalah dengan berusaha menggunakan satu saja bahasa dalam kalimat-kalimat yang kita gunakan, tidak mencampur-campurnya dan seenaknya membuat kata serapan baru dari bahasa asing.

Sudah terlalu sering, saya rasa, kita mendengar (atau malah berbicara) kalimat-kalimat seperti,
"Management-nya ngga bagus."
"Tune-in terus di radio ini!"
"Kafe ini nge-groove banget."

Oke, mungkin maksud orang-orang yang berbicara dua bahasa sekaligus ini baik, untuk membiasakan diri berbahasa Inggris. Tapi di mana letak penghargaan kita untuk kedua bahasa tersebut? Tidak adakah sedikit pun penghargaan terhadap guru atau tokoh pelestari bahasa, yang saya yakin gatal ingin mengoreksi dan menawarkan diksi dalam Bahasa Indonesia untuk mengubah tata bahasa semrawut orang-orang ini?

Contoh langsungnya, tiga kalimat berantakan tadi bisa langsung diberikan pilihan koreksinya:
"Manajemennya ngga bagus.", atau "Pengaturannya ngga bagus."
"Dengerin terus siaran kami!"
"Suasana kafe ini asik banget."

Tidak ada kata-kata yang terlalu 'berat' yang bisa menimbulkan kesan 'sok serius', tidak juga kata-kata yang melenceng dari makna yang dimaksud.

Saya harap makna dan harapan saya dapat anda tangkap. Maksud saya sama sekali bukan untuk menjelek-jelekkan anda yang punya kebiasaan berbahasa seperti yang saya sebut di atas, tapi hanya untuk menyadarkan anda bahwa penghargaan terhadap bahasa kita (dan juga bahasa asing) dapat kita nyatakan dengan menggunakannya secara benar.

Pasti sekali-dua kali kita pernah secara sadar atau tidak sadar berbahasa seperti ini, diri saya pun tidak terkecuali. Namun jika kita menghargai bahasa, sadarlah tiap kali mencetuskan kalimat, dan mulailah menggunakan satu bahasa saja dalam tiap kalimat. Percayalah, banyak orang yang menganggap kebiasaan dua-bahasa-dalam-satu-kalimat ini tidak indah.

Tidak menyakitkan, kok, mencoba berbahasa dengan baik dan benar. Yang dibutuhkan dari generasi muda saat ini adalah nasionalisme dan kemampuan untuk maju ke era globalisasi; membiasakan berbahasa Indonesia dengan baik bisa menjadi langkah awal menuju yang pertama, dan berbahasa Inggris dapat melancarkan jalan yang kedua.

Mari kita mulai dari diri sendiri, dan kemudian menularkannya pada orang lain.
Berpandangan global, berpikir rasional, bertindak lokal.
Jangan lagi terdengar karmina yang sinis ini:

Dikasih sagu, minta kentang.
Belagu, mentang-mentang.