August 19, 2008

Persahabatan Memang Indah

Kemarin pagi (Sabtu, 23/8) saya memulai hari dengan perasaan bahagia dan sedikit berdebar. Saya berpikir, "Rasanya hari ini akan menyenangkan."

Sepanjang siang saya di Ruang Santai (sekre unit saya, Liga Film Mahasiswa ITB), melayani para pengambil foto wisuda dan menonton beberapa film. Malamnya, saya dan sebelas orang teman fungs (fungsionaris; pengurus LFM) lainnya berangkat ke Dago Pakar, masuk Roemah Kopi kemudian berpindah ke Congo.

Ditemani segelas minuman untuk tiap orang (karena sudah makan dulu di Sari Bundo :D), meja makan yang cukup besar dan nyaman itu kami ramaikan dengan 'menodong' setiap orang untuk curhat masalah-masalah pribadinya. Tentang apa? Apalagi kalau bukan masalah cinta. Hehehe...

Obrolan ternyata seru banget. Banyak nama disebut, gosip diklarifikasi, cerita disampaikan. Dari kasus "Ciwalk" (yang diklarifikasi: "Ngga ada apa-apa") sampai perjodohan frontal yang langsung ditolak saat itu juga, semua diceritain.

Banyak ketawa, salting, kesenangan, dan pastinya 12 orang ini jadi tambah saling kenal. :)
Seneng banget rasanya, bisa cerita dan dengar banyak cerita dari sahabat-sahabat saya ini. Rasanya benar-benar jadi tambah dekat, walaupun pasti masih ada yang belum diceritain karena belum siap atau mungkin masih curiga ada yang bakal kelepasan di luar kami berduabelas. Soalnya banyak tukang pancing disini, hehehe...

Pulangnya, saya coba meresapi apa-apa yang diomongin malam ini. Soalnya suka lupa sih kalo dengar cerita. x( Dan yang utama, saya resapi sebanyak mungkin perasaan yang saya rasakan malam ini. Bahagia, rasanya kayak pengen meluk mereka satu persatu. Hehehe.

Pengen cerita banyak lagi yang belum diceritain ke semuanya, tapi nanti deh kalo udah seru (semoga jadi seru, hahaha). Pengen deh sering-sering kumpul kayak gini, lengkap berduabelas, cerita-cerita dan banyak ketawa lagi.

Ah, senangnya bisa punya sahabat-sahabat seperti ini. Tersenyum bersama, tertawa bersama, dan berbagi rasa saat ada yang tidak gembira. Dengan senyuman tentunya.

Bener-bener berharap... Semoga ga ada yang terpisah dari "kita". Semoga bisa terus kayak gini.

Huahh.... Persahabatan memang indah.
Sayang kalian semua. :) :) :)

May 18, 2008

Pencarian

"Hari ini hari kelima aku mengelilingi kota."

"Untuk apa?"

"Aku mencari seseorang yang bisa membantu."

"Aku bisa membantu."

"Tidak. Kau tak bisa."

"Katakan saja."

"Kau akan tertawa."

...

"Aku mencari penerjemah."

"Aku bisa semua bahasa di dunia!"

"Tapi ini berbeda. Aku mencari penerjemah bahasa tatapan mata."



Andai saja tatapan mata bisa benar-benar berkata-kata.
Pasti hari ini dia mengerti segalanya.

November 28, 2007

Sang Penyendiri

Dilihat dari beberapa sisi, saya adalah seorang individualis.

Saya menikmati berjalan sendiri di tengah pusat perbelanjaan.
Tak segan mengarungi jam-jam panjang di perjalanan tanpa teman.
Saat makan pun, tak janggal ketika harus menikmati seorang diri.

Inilah kebebasan saya.
Rasanya nyaman bisa mengerjakan apapun yang saya suka.
Selama apapun.
Tak ada yang mengusik atau berseru minta ditunggu.
Berjam-jam diam tak mengapa,
memabukkan diri dalam kubang khayalan dihalalkan.

Tapi ini juga kegelisahan saya.
Pernah terlintas, takkan ada yang kehilangan jika saya terlepas.
Siapa yang tahu, kalau tak satupun rindu saat semua bersatu dan saya tak disitu?

Berburuk sangka bukan maksud saya.
Semata ingin merenung.
Saya sayang teman-teman, kanopi tempat berteduh dan mangkuk penampung lirih ketika murung.
Bahkan kantung tidur nyaman pelindung dari angin saat udara terlampau dingin.
Walau kadang tampak tak apa jika saya tak ada.

Teringat kembali ucapan ayah seorang teman:
"Meski terlihat berjuang bersama dan akan selalu ada yang bersama kita, sebenarnya kita hidup sendiri di dunia ini."

November 19, 2007

Ketika Kekuatan Prinsip Hidup Diuji

Salah satu masalah yang hangat dibicarakan di antara saya dan teman-teman perempuan saya akhir-akhir ini adalah soal hubungan (pacaran) dengan lelaki yang berbeda agama. Pasalnya, dua orang di antara kami (termasuk saya) sedang mengalami dilema dalam mengambil sikap menghadapi hal ini.

Saya belum pernah berada di situasi ini sebelumnya. Dari dulu saya belum pernah tertarik pada laki-laki yang memiliki kepercayaan berbeda, dan selalu berusaha untuk tidak tertarik. Namun satu orang ini benar-benar menarik perhatian saya, dan hampir membuat saya benar-benar menyukainya.

Yang terjadi kemudian, hati saya mulai ragu. Dan otak saya mulai mencari pembenaran.
"Saya menolak berpacaran dengan seseorang yang berbeda keyakinan karena saya ingin menikah dengan seseorang yang seiman." Kenapa harus menolak sementara sekarang saya belum ingin menikah?
"Saya hanya ingin membina hubungan dengan lelaki seiman karena saya tidak mau membina hubungan yang pasti harus berakhir." Mengapa harus menolak, padahal pasti banyak manfaat yang bisa saya peroleh dari hubungan tersebut?

Lalu mulailah suasana hati saya menjadi galau. Mulai bimbang sampai akhirnya saya menghubungi seorang sahabat lewat sms dan meminta pendapatnya. Teman saya ini lalu mengatakan,
"Emang situasi yang sulit dihadapi, tapi ada satu yang harus lo pegang, yaitu prinsip. Lo lagi dites, seberapa kuat lo pegang prinsip lo."
Saya setuju, ini memang masalah kekuatan hati dan keteguhan pada prinsip.

Tapi saya selalu percaya, menyukai siapapun tidak salah. Siapa yang bisa memilih orang yang disayangi, sementara hati bekerja independen bersama nurani? Siapa yang bisa menolak perasaan yang muncul, sementara tak ada kuasa pada diri untuk menghentikan keinginan diri?

Yang membuatnya seakan salah adalah keadaan dan budaya, dimana semua orang berlomba menghakimi dan mengotak-kotakkan manusia.

Saya tidak menganggap diri saya religius, namun lebih pada humanis.
Tetapi saya memandang agama sebagai sesuatu yang penting untuk dipegang dalam hidup.

Saya tidak merasa bersalah. Tapi juga tidak merasa benar.

Penolakan saya diuji, ketika saya sudah berada di dalam keadaan yang saya tentang itu.
Ternyata menjadi orang yang prinsipil tidak semudah yang saya kira.
"Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people
Living life in peace"

John Lennon - Imagine

September 23, 2007

Gadis berdiri di depan pintu, menonton anak-anak main dampu. Gadis tersenyum. Manis sebentar, lalu kembali hambar.

Siang terang-benderang. Pria duduk di depan televisi, merasa tak berarti. Sungguh pikiran sedang mengawang, tak tergoda hiburan yang sedang tayang.

Gadis ke ruang keluarga. Mengambil koran, mencari yang berkenan. Sejurus merasa ketus, tak menemukan judul berbunyi bagus.

Pria agak resah. Bolak-balik jalan tak berarah. Pembantu ingin bertanya mengapa gundah, tapi takut kena marah.

Gadis dipanggil bapak. "Ke perempatan beli sus, yang tadi dimakan tikus."
Terima uang keluar rumah, tapi belok salah arah.

Ada telepon untuk pria. Dari teman lama. Cuma bilang malam ini tidak jadi datang. Pria kecewa. Sendiri tak mungkin menghapus, teringat terus.

Bapak marah. "Yang mudah saja salah". Gadis pergi dengan murung. Mencari tempat merenung.

Pria pergi sendiri. Mengemudi hati-hati. Jalan penuh kendaraan. Sengaja pelan, biar aman. Teringat lagi yang terjadi di jalan ini.

Gadis tergesa-gesa. Panas membara. Sebentar-sebentar melambat, teringat yang sudah lewat.

Belok kanan di persimpangan. Lapangan ramai sekali, orang-orang main voli. Pria turun dari Yamaha, melangkah ke utara.

Gadis sampai tujuan. Berjalan ke selatan. Menuju pepohonan.

Pria terkesima. Menatap tak percaya.

Gadis hampir jatuh. Mengira diri sedang bermimpi.

Tak mungkin khayalan yang bikin. Tak bisa sebegini nyata. Itu kalung dari Pria. Dan jam tangan itu persis seperti hadiah Gadis.

Gadis di tengah lapangan.

Pria lari mendekati.

Keduanya terpana. Senyum dikulum. Amarah merendah. Bahagia gegap gempita.
Terik mentari tak terasa lagi.

Dan kemana pergi semua gundah di hati?